Tumbuh Mandiri

Just another WordPress.com site

SLOKA BHAGAWADGITA UNTUK LOMBA

with one comment

Dhritarāstra uwacā :

(1). Dharmaksetre kuruksetre

samaweta yuyutsawah,

māmakāh pandawās cai’wa

kim akurwata saňjaya

Dhistarastra berkata :

“ Apakah yang akan mereka lakukan, pasukanku

dan pasukan Pandawa di medan Dharma, Kuruksetra,

yang siap tempur, O Saňjaya?”

Saňjaya uwacā :

(2). Dŗistwā tu pāņdāwanĭkam

wyùdam duryodanas tadā

ācāryam upasamngamya

rājā wacanam abrawĭt.

Sanjaya berkata :

“ Setelah melihat pasukan Pandawa

siap berbaris teratur,

raja Duryodana, datang mendekati gurunya,

bersabda kata-kata berikut.”

(3). Pasya’ tām pānduputrānām

Ācārya mahatĭm camùm

wyùdhām drupadaputrena

tawa sisyena dhĭmatā

“ Lihatlah, itu

pasukan Pendawa yang amat besar

dipimpin oleh putra Pandu dan

0leh putra Drupada

murid mu sendiri yang bijaksana o dang acarya

(4). Atra sùrā maheswara

bhimārjunasamā yudhi

yuyudhāno wiratas ca

Drupadaş ca mahārāthah

Inilah (nama-nama) para pahlawan, pemanah-pemanah

yang tangguh, sebanding dengan Bhima dan Arjuna, (yaitu) Yuyudana, Wiarāta, dan Drupada,

Semuanya panglima kereta perang.

(5). Dhristaketus cekitānah

kāsirājah ca wǐryawān,

purujit kuntibhojas ca

şaibyaś ca narapungawah.

Dhristaketu, Cekitana

dan raja Kasi yang pemberani,

Purujit, Kuntibhoja dan Saibia yaitu banteng diantara manusia.

(6). Yudhāmanyus ca wikrānta

uttamaujās ca wiryawān

saubhadro draupadeyās ca

Sarwa ewa mahārathāh

Yudhamanyu yang pemberani,

Uttamauja yang gagah berani

putera-putera Subhadra dan Draupadi

semua Sesungguhnya akhli perang kereta

(7). Asmākam tu wisisthāye

tān nibodha dwijottama

nāyakā mama sainyasya

samjňārtham tān brawimi te

Ketahuilah, mereka (sebagai) pemimpin-pemimpin pasukan kami, untuk diketahui saya sebutkan mereka, yang pertama adalah Engkau Pendeta utama.

(8). Bhawān bhisma ca karnas ca

kripas ca samitimjayah,

aswatthāmā wikarnas ca

saumadattis tathai ‘ wa ca

Yang terhormat,

Bhisma dan Karna kemudian Kripa, yang sama-sama jaya dalam perang ; demikian juga Aswathama, Wikarna dan Somadattaputra.

(9). Anye ca bahawah surā

madarthe tyaktajiwitah

nānāsāstra praharanāh

sarwe yuddhewisāradāh

Dan perwira lainnya yang sedia mempertaruhkan jiwa mereka untuk saya, sama sama bersenjata lengkap aneka warna, semnua akhli dalam peperangan.

(10). Aparyātam tad asmākam

balam bhismābhiraksitam,

paryāptam twidam etesām

balam bhǐmābhirakşitam

Pasukan kami yang dipimpin oleh Bhisma sungguh tak terkirakan banyaknya sedangkan besar pasukan mereka dibawah komando Bhima, dapat diperkirakan.

(11) Anayeşu ca sarweşu

yathabhagam swasthitaāh,

bhǐsnam ewā’ bhirakşantu

bhawathah sarwa ewa hi

Semuanya siap tegak dalam barisan masing-masing dalam devisi dipimpin oleh Bhisma, masing-masingnya untuk Tuanku.

(12). Tasya saňjanayan harsam

kuruwriddah pitāmahah

simhanadam winadyo coaih

sankham dadhman pratapawan,

Untuk membangkitkan semangat pahlawan kuru, yang telah lanjut usia, sebagai patriar, meniup trompet kerangnya kuat-kuat (sehingga) menderu bagaikan raung singa.

(13). Tatah sankhās ca bheryas ca

panawānaka gomukhāh

sahasai’ wā bhyahayanta

sa sabdas tumulo’ bhawat

Kemudian trompet, ganderang dan tambur serta sruling tanduk, dibunyikan serentak dengan gemuruh dan gagap gempita.

(14). Tatahśwetair hayair yukte

mahati syandane sthitau,

mādhawah padawas caiwa

diwyau sankhau pradadhmatuh

Kemudian setelah berdiri di atas kereta megah yang ditarik oleh dua ekor kuda putih, Krisna dan arjuna meniup trompet Dewata.

(15). Pancajanyam hrisikeso

dewadattam dhanaňjayah

paundram dadhmau mahāśankham

bhimakarmā wŗikodarah

Krisna meniup trompet Pancajania dan Arjuna meniup trompet Dewadatta, Bima tingkahnya yang menakutkan galak bagaikan srigala meniup trompetnya yang kuat, Paundra.

(16). Anantawijayan rājā

kuntǐputro yudhisthirah

nakulah sahadewaś ca

sugosa manipuspakau

Putra Kunti, Prabu Yudhistira meniup Anantawijaya, (sedangkan) Nakula dan Sahadewa meniup Sughosa dan Manipuspaka

(17). Kāsyas’ca parameswāsah

śikhandǐ ca maharathah

dhristadyumno wirātas ca

sātyakis ca purājitah

Maha raja dari kasi pemanah yang unggul dan sikkhandi, pahlawan kereta Dristadyumna dan wirata demikian pula Satyaki yang tak terkalahkan.

(18). Drupado draupadeyas ca

sarwasah prithiwipate

saubhadras ca mahabahuh

sankhan dadhumuh prithak-pritak.

Raja Drupada dan putera-putera Draupadi, serta putera Subhadra, dengan persenjataannya yang kuat semua meniup trompet mereka masing-masing dari segala prajuru.

(19). Sa ghaso dhartarastranam

hridayani wyadarayat,

nabhaś ca pritiwǐm cai’ wa

tumulo wyanunādayan.

Suara gegap gempita itu memecah angkasa dan bumi menggentarkan hati putra-putri Dhristarasta

(20). Atha wyawasthitān drstwā

dhartarastran kepsidwajah

prawritte sastrasampāte

dhanuraudyamya pāndawah

Kemudian setelah melihat putra-putra Dhristarastra dengan senjata siap dalam barisan, maka Arjuna dengan panji-panji “ Hanuman” mengangkat busur panahnya.

(21). Hrisgikesam tadā wākyam

Idam aha mahǐpate

Arjuna uwāca :

Senayor ubhay or madhye

Ratham sthapaya me’ cyukta

Kemudian mengucapkan kata-kata ini kepada Kresna, Arjuna berkata :

“O Krisna tariklah  keretaku sampai di tengah di antara keduan pasukan.

SUMBER : BHAGAWADGITA, OLEH GEDE PUDJA MH, SH

SLOKA : 1 – 21

HAL         : 1-13

https://gedeseen.wordpress.com/

Written by gedeseen

Juni 7, 2010 pada 12:38 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: