Tumbuh Mandiri

Just another WordPress.com site

Naskah Lagi

leave a comment »

OM SUASTYASTU

Terima kasih saya sampaikan kepada pembawa acara kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan Dharma wacana

Umat se-Dharma yang berbahagia pada hari ini

Pertama-tama saya memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Ida Hyang Widhi Wasa atas segala limpahan anugrah dari beliau pada hari yang indah dan berbahagia ini saya, demikian juga umat se-Dharma dapat berkumpul di tempat ini dalam suasana yang sangat damai untuk bersama-sama mengikuti lomba Dharma wacana yang diselenggarakan dalam rangka Utsawa Dharma Wacana hari ini. Semoga kegiatan seperti ini semakin sering dilakasanakan sehingga nilai-nilai ajaran agama Hindu yang bersumber dari Weda semakin kita pahami untuk kita amalkan demi kedamaian dunia ini

Umat se-Dharma yang berbahagia, utamanya para peserta lomba Dharma Wacana. Adapun judul yang akan saya gunakan dalam menyampaikan Dharma Wacana pada acara ini adalah : Cinta Kasih adalah Napas Kehidupan

Umat se-Dharma yang berbahagia

Judul yang saya sampaikan di atas tadi sangat menarik buat saya karena sesungguhnya di dunia yang indah ini ditumbuhi dengan beribu-ribu cinta kasih, mulai cinta kasih orang tua kepada anaknya, cinta kasih istri kepada suaminya atau sebaliknya sampai pada cinta kasih sepasang yang dibalut oleh Asmara. Jika demikian banyak jenis cinta kasih yang ada lalu apa sebenarnya makna cinta itu ?

Umat se-Dharma yang berbahagia

Salah satu makna sebuah cinta kasih adalah suatu kerinduan yang mendalam atau rasa kasih sayang yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam yang didasari pada sebuah kesadaran yang tinggi. Hal ini sangat perlu kita kembangkan bersama untuk menjadikan hidup ini menjadi damai, karena sesungguhnya cinta kasih itu adalah jiwa dari semua makhluk hidup, Cinta kasih adalah Tuhan itu sendiri.

Bagawadgita Sloka XII. 13 . menyebutkan :

Advesta sarwa bhutanam, Maitrah karuna eva ca

Nirmano niraham karah, sama dukha-sukhah ksami

Yang artinya :

Dia yang tidak membenci segala makhluk, bersahabat dan cinta kasih

Bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka, serta pemberi maaf.

Umat se-Dharma yang berbahagia

Akhir-akhir ini kita mendengar dan menyaksikan sebuah priilaku dari manusia yang menunjukkan seolah telah kehilangan cinta kasih. Hal ini dapat kita lihat dari maraknya kekerasan yang terjadi di negeri ini. Ada kecendrungan cinta kasih yang ada pada setiap orang telah mengalami kekeringan dan bahkan manusia telah kehilangan seluruh cinta kasihnya sehingga terjadilah perbuatan yang menimbulkan kekerasan. Saudara para generasi muda yang menjadi harapan baik keluarga maupun bangsa banyak yang terjerumus ke dalam tindakan yang sia-sia, seperti mabuk-mabukan, pesta narkoba dan tindakan lain yang menyimpang dari aturan hukum dan agama, itu semua akibat dari orang tua telah kehilangan cinta kasih kepada anaknya. Banyak dari kita seolah lupa dan tidak bisa berwiweka memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Beberapa waktu lalu, hati saya miris dan prihatin mendengar berita bahwa saudara-saudara yang seusia dengan saya yang menjadi harapan bangsa harus menjadi korban sia-sia meninggalkan dunia ini akibat meminum arak yang dicampur methanol, sungguh sebuah pengorbanan yang sia-sia dan tanpa makna hal yang sperti ini juga telah kehilangan cinta kasih terutama cinta kasih terhadap dirinya sendiri.

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Agama Hindu sesungguhnya sudah sangat jelas mengajarkan agar umatnya selalu dapat menumbuhkan rasa cinta kasih dengan didasarkan pada berpikir, berucap dan bertindak yang baik dan benar. Agama Hindu tidak pernah mengajarkan kebencian dan kemunafikan, namun sebaliknya selalu mengajarkan prinsip-prinsip Sathya atau kebenara, Dharma atau kebajikan, Shantih atau kedamaian, Prema atau kasih sayang, dan Ahimsa atau tanpa kekerasan. Ini hendaknya dapat kita jadikan napas dalam kehidupan setiap umat manusia khususnya umat Hindu. Cendikiawan Hindu, Suami Vivekananda mengatakan “ Cinta kasih adalah daya penggerak, karena cinta kasih selalu menempatkan dirinya sebagai pemberi yang tanpa keterikatan dan bukan penerima” Namun sekali lagi saya sampaikan dalam kesempatan ini, untuk kita renungakan bersama, kondisi kehidupan sekarang sungguh menjadikan kita prihatin. Banyak diantara saudara-saudara kita menjalani hidup dalam keresahan, kegelihahan dan kecemasan serta sangat jauh dari rasa santih. Tentu kita masih ingat pada tanggal 12 Oktober tahun 2002 yang lalu dimana Bali seolah tersentak oleh ledakan bom yang menewaskan sekian ratus orang yang tanpa dosa. Ini satu bukti bahwa manusia telah kehilangan rasa cinta kasihnya, cinta manusia telah terkikis dan digantikan oleh dendam dan kebencian yang siap berkobar dan membakar siapa saja, karenanya marilah kita sirami kembali dengan sisa-sisa cinta kasih kita yang masih ada sehingga kebencian, kemarahan dan dendam yang ada tidak menjalar lebih luas lagi

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Dalam Atharva Veda, Mandala VII, sukta 45 ada disebutkan

Kebencian itu ibarat api yang dapat membakar dirinya sendiri seperti kebakaran hutan belantara karenanya padamkanlah api kebencian itu dengan air cinta kasih kita.

Selain itu dalam ajaran Agama Hidnu juga kita mengenal satu ajaran yang menurut saya sangat sempurna sekali yaitu Ahimsa yang mampu menumbuhkan rasa cinta kasih terhadap semua makhluk dan mampu menjiwai nilai-nilai kemanusiaan. Cinta kasih yang sejati akan melenyapkan kekerasan dan melahirkan kedamaian. Ajaran Ahimsa selalu mengajarkan umat manusia untuk selalu mulat sasrira atau introspeksi diri seperti apa yang disampaikan oleh pencetus perjuangan tanpa kekerasa atau no violence yaitu Mahatma Gandhi. Beliau mengatakan seperti ini : arahkan sinarmu ke dalam batinmu, barangkali sebagian dari kesalahan itu akibat dari kamu sendiri. Bertindaklah adil, bermusyawarahlah, berundinglah, sebab kalau tidak, satu peperangan akan melahirkan segala racun, ketakutan dan tindak kekerasan akan memperbesar alasan untuk melahirkan pertikaian berikutnya. Nah dari apa yang disampaikan oleh Mahatma Gandhi yang saya sebutkan tadi nampak jelas bahwa tindakan tanpa kekerasan merupakan sebuah jalan untuk menuju perdamaian.

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Kekerasan yang timbul tidak hanya lewat perbuatan juga timbul lewat pikiran maupun perkataan manusia, karenanya ajaran ahimsa ini hedaknya selalu diamalkan dalam kehidupan baik dalam bertindak, berpikir dan berbicara. Sehingga setiap tindakan akan bernapaskan cinta kasih yang melahirkan kebajikan dan cinta kasih akan selalu melahirkan kedamaian, karenanya menurut Bagawadgita cintailah semuanya, janganlah bersipat bermusuhan atau menunjukan kebencian kepada siapapun juga.

Umat se dharma yang berbahagia

Seperti apa yang sudah saya sebutkan di atas bahwa cinta kasih akan menjiwai segala yang ada dalam kehidupan ini The power of love demikian orang sering menyebutnya. Apapun yang kita lakukan tanpa didasari oleh nilai cinta kasih semuanya tidak ada artinya seperti apa yang disebutkan oleh kitab suci Sarasmuccaya sloka 96 disebutkan sebagai berikut : meskipun orang itu selalu jaya terhadap musuh-musuhnya serta tak terbilang jumlah musuh yang telah dibunuhnya segala yang dibencinya musnah, namun jika ia selalu tidak mau memberi cinta dan selalu menuruti kemarahan dan kebenciannnya maka selamanya musuhnya itu tidak akan habis-habisnya.

Umat se-Dharma yang berbahagia

Sebelum saya sudahi penyampaian Dharma Wacana ini ada baiknya saya simpulkan kembali materi Dharma wacana yang sudah saya sampaikan tadi.

1. Makna cinta kasih itu sangatlah luas tidak hanya berarti perasaan suka antara sepasang kekasih, juga berarti welas asih antara saudara, teman dan antar sesama makhluk ciptaan Tuhan

2. Mengalirkan cinta kasih dalam kehidupan kita akan mampu melenyapkan kekerasan dan melahirkan perdamaian

3. Dengan cinta kasih kita akan menyadari bahwa sesungguhnya kita bersaudara seperti apa yang diisyaratkan dalam Weda “Vasudaiva kutumbhakam” artinya sesungguhnya semua manusia adalah bersaudara, “Vishva virat suarupa artinya semua makhluk hidup adalah ciptaan Tuhan

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Demikian Dharma Wacana yang bisa saya sampaikan mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua. Saya menyadari bahwa apa yang saya sampaikan ini masih banyak sekali kekurangannya untuk itu saya mohon maaf tidak ada manusia yang sempurna “tan hana wang sasuasta nulus”. Sebelum saya tutup saya ingin mengajak umat se-Dharma untuk mulat sasrira atau introspeksi diri tentang cinta kasih kita.

Barangkali saja cinta kasih kita telah kering mari kita sirami

Barangkali saja cinta kasih yang kita miliki telah lari mari kita kejar

Dan barangkali saja cinta kasih yang kita miliki telah hilang, mari kita temukan kembali

Selanjutnya marilah kita berangkulan saling memberi cinta.

Umat se-Dharma

Saya sudahi dengan Puja Parama Santih

Written by gedeseen

Juni 6, 2010 pada 10:17 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: