Tumbuh Mandiri

Just another WordPress.com site

SLOKA BHAGAWADGITA UNTUK LOMBA

with one comment

Dhritarāstra uwacā :

(1). Dharmaksetre kuruksetre

samaweta yuyutsawah,

māmakāh pandawās cai’wa

kim akurwata saňjaya

Dhistarastra berkata :

“ Apakah yang akan mereka lakukan, pasukanku

dan pasukan Pandawa di medan Dharma, Kuruksetra,

yang siap tempur, O Saňjaya?”

Saňjaya uwacā :

(2). Dŗistwā tu pāņdāwanĭkam

wyùdam duryodanas tadā

ācāryam upasamngamya

rājā wacanam abrawĭt.

Sanjaya berkata :

“ Setelah melihat pasukan Pandawa

siap berbaris teratur,

raja Duryodana, datang mendekati gurunya,

bersabda kata-kata berikut.”

(3). Pasya’ tām pānduputrānām

Ācārya mahatĭm camùm

wyùdhām drupadaputrena

tawa sisyena dhĭmatā

“ Lihatlah, itu

pasukan Pendawa yang amat besar

dipimpin oleh putra Pandu dan

0leh putra Drupada

murid mu sendiri yang bijaksana o dang acarya

(4). Atra sùrā maheswara

bhimārjunasamā yudhi

yuyudhāno wiratas ca

Drupadaş ca mahārāthah

Inilah (nama-nama) para pahlawan, pemanah-pemanah

yang tangguh, sebanding dengan Bhima dan Arjuna, (yaitu) Yuyudana, Wiarāta, dan Drupada,

Semuanya panglima kereta perang.

(5). Dhristaketus cekitānah

kāsirājah ca wǐryawān,

purujit kuntibhojas ca

şaibyaś ca narapungawah.

Dhristaketu, Cekitana

dan raja Kasi yang pemberani,

Purujit, Kuntibhoja dan Saibia yaitu banteng diantara manusia.

(6). Yudhāmanyus ca wikrānta

uttamaujās ca wiryawān

saubhadro draupadeyās ca

Sarwa ewa mahārathāh

Yudhamanyu yang pemberani,

Uttamauja yang gagah berani

putera-putera Subhadra dan Draupadi

semua Sesungguhnya akhli perang kereta

(7). Asmākam tu wisisthāye

tān nibodha dwijottama

nāyakā mama sainyasya

samjňārtham tān brawimi te

Ketahuilah, mereka (sebagai) pemimpin-pemimpin pasukan kami, untuk diketahui saya sebutkan mereka, yang pertama adalah Engkau Pendeta utama.

(8). Bhawān bhisma ca karnas ca

kripas ca samitimjayah,

aswatthāmā wikarnas ca

saumadattis tathai ‘ wa ca

Yang terhormat,

Bhisma dan Karna kemudian Kripa, yang sama-sama jaya dalam perang ; demikian juga Aswathama, Wikarna dan Somadattaputra.

(9). Anye ca bahawah surā

madarthe tyaktajiwitah

nānāsāstra praharanāh

sarwe yuddhewisāradāh

Dan perwira lainnya yang sedia mempertaruhkan jiwa mereka untuk saya, sama sama bersenjata lengkap aneka warna, semnua akhli dalam peperangan.

(10). Aparyātam tad asmākam

balam bhismābhiraksitam,

paryāptam twidam etesām

balam bhǐmābhirakşitam

Pasukan kami yang dipimpin oleh Bhisma sungguh tak terkirakan banyaknya sedangkan besar pasukan mereka dibawah komando Bhima, dapat diperkirakan.

(11) Anayeşu ca sarweşu

yathabhagam swasthitaāh,

bhǐsnam ewā’ bhirakşantu

bhawathah sarwa ewa hi

Semuanya siap tegak dalam barisan masing-masing dalam devisi dipimpin oleh Bhisma, masing-masingnya untuk Tuanku.

(12). Tasya saňjanayan harsam

kuruwriddah pitāmahah

simhanadam winadyo coaih

sankham dadhman pratapawan,

Untuk membangkitkan semangat pahlawan kuru, yang telah lanjut usia, sebagai patriar, meniup trompet kerangnya kuat-kuat (sehingga) menderu bagaikan raung singa.

(13). Tatah sankhās ca bheryas ca

panawānaka gomukhāh

sahasai’ wā bhyahayanta

sa sabdas tumulo’ bhawat

Kemudian trompet, ganderang dan tambur serta sruling tanduk, dibunyikan serentak dengan gemuruh dan gagap gempita.

(14). Tatahśwetair hayair yukte

mahati syandane sthitau,

mādhawah padawas caiwa

diwyau sankhau pradadhmatuh

Kemudian setelah berdiri di atas kereta megah yang ditarik oleh dua ekor kuda putih, Krisna dan arjuna meniup trompet Dewata.

(15). Pancajanyam hrisikeso

dewadattam dhanaňjayah

paundram dadhmau mahāśankham

bhimakarmā wŗikodarah

Krisna meniup trompet Pancajania dan Arjuna meniup trompet Dewadatta, Bima tingkahnya yang menakutkan galak bagaikan srigala meniup trompetnya yang kuat, Paundra.

(16). Anantawijayan rājā

kuntǐputro yudhisthirah

nakulah sahadewaś ca

sugosa manipuspakau

Putra Kunti, Prabu Yudhistira meniup Anantawijaya, (sedangkan) Nakula dan Sahadewa meniup Sughosa dan Manipuspaka

(17). Kāsyas’ca parameswāsah

śikhandǐ ca maharathah

dhristadyumno wirātas ca

sātyakis ca purājitah

Maha raja dari kasi pemanah yang unggul dan sikkhandi, pahlawan kereta Dristadyumna dan wirata demikian pula Satyaki yang tak terkalahkan.

(18). Drupado draupadeyas ca

sarwasah prithiwipate

saubhadras ca mahabahuh

sankhan dadhumuh prithak-pritak.

Raja Drupada dan putera-putera Draupadi, serta putera Subhadra, dengan persenjataannya yang kuat semua meniup trompet mereka masing-masing dari segala prajuru.

(19). Sa ghaso dhartarastranam

hridayani wyadarayat,

nabhaś ca pritiwǐm cai’ wa

tumulo wyanunādayan.

Suara gegap gempita itu memecah angkasa dan bumi menggentarkan hati putra-putri Dhristarasta

(20). Atha wyawasthitān drstwā

dhartarastran kepsidwajah

prawritte sastrasampāte

dhanuraudyamya pāndawah

Kemudian setelah melihat putra-putra Dhristarastra dengan senjata siap dalam barisan, maka Arjuna dengan panji-panji “ Hanuman” mengangkat busur panahnya.

(21). Hrisgikesam tadā wākyam

Idam aha mahǐpate

Arjuna uwāca :

Senayor ubhay or madhye

Ratham sthapaya me’ cyukta

Kemudian mengucapkan kata-kata ini kepada Kresna, Arjuna berkata :

“O Krisna tariklah  keretaku sampai di tengah di antara keduan pasukan.

SUMBER : BHAGAWADGITA, OLEH GEDE PUDJA MH, SH

SLOKA : 1 – 21

HAL         : 1-13

https://gedeseen.wordpress.com/

Written by gedeseen

Juni 7, 2010 at 12:38 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Naskah Lagi

leave a comment »

OM SUASTYASTU

Terima kasih saya sampaikan kepada pembawa acara kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan Dharma wacana

Umat se-Dharma yang berbahagia pada hari ini

Pertama-tama saya memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Ida Hyang Widhi Wasa atas segala limpahan anugrah dari beliau pada hari yang indah dan berbahagia ini saya, demikian juga umat se-Dharma dapat berkumpul di tempat ini dalam suasana yang sangat damai untuk bersama-sama mengikuti lomba Dharma wacana yang diselenggarakan dalam rangka Utsawa Dharma Wacana hari ini. Semoga kegiatan seperti ini semakin sering dilakasanakan sehingga nilai-nilai ajaran agama Hindu yang bersumber dari Weda semakin kita pahami untuk kita amalkan demi kedamaian dunia ini

Umat se-Dharma yang berbahagia, utamanya para peserta lomba Dharma Wacana. Adapun judul yang akan saya gunakan dalam menyampaikan Dharma Wacana pada acara ini adalah : Cinta Kasih adalah Napas Kehidupan

Umat se-Dharma yang berbahagia

Judul yang saya sampaikan di atas tadi sangat menarik buat saya karena sesungguhnya di dunia yang indah ini ditumbuhi dengan beribu-ribu cinta kasih, mulai cinta kasih orang tua kepada anaknya, cinta kasih istri kepada suaminya atau sebaliknya sampai pada cinta kasih sepasang yang dibalut oleh Asmara. Jika demikian banyak jenis cinta kasih yang ada lalu apa sebenarnya makna cinta itu ?

Umat se-Dharma yang berbahagia

Salah satu makna sebuah cinta kasih adalah suatu kerinduan yang mendalam atau rasa kasih sayang yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam yang didasari pada sebuah kesadaran yang tinggi. Hal ini sangat perlu kita kembangkan bersama untuk menjadikan hidup ini menjadi damai, karena sesungguhnya cinta kasih itu adalah jiwa dari semua makhluk hidup, Cinta kasih adalah Tuhan itu sendiri.

Bagawadgita Sloka XII. 13 . menyebutkan :

Advesta sarwa bhutanam, Maitrah karuna eva ca

Nirmano niraham karah, sama dukha-sukhah ksami

Yang artinya :

Dia yang tidak membenci segala makhluk, bersahabat dan cinta kasih

Bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka, serta pemberi maaf.

Umat se-Dharma yang berbahagia

Akhir-akhir ini kita mendengar dan menyaksikan sebuah priilaku dari manusia yang menunjukkan seolah telah kehilangan cinta kasih. Hal ini dapat kita lihat dari maraknya kekerasan yang terjadi di negeri ini. Ada kecendrungan cinta kasih yang ada pada setiap orang telah mengalami kekeringan dan bahkan manusia telah kehilangan seluruh cinta kasihnya sehingga terjadilah perbuatan yang menimbulkan kekerasan. Saudara para generasi muda yang menjadi harapan baik keluarga maupun bangsa banyak yang terjerumus ke dalam tindakan yang sia-sia, seperti mabuk-mabukan, pesta narkoba dan tindakan lain yang menyimpang dari aturan hukum dan agama, itu semua akibat dari orang tua telah kehilangan cinta kasih kepada anaknya. Banyak dari kita seolah lupa dan tidak bisa berwiweka memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Beberapa waktu lalu, hati saya miris dan prihatin mendengar berita bahwa saudara-saudara yang seusia dengan saya yang menjadi harapan bangsa harus menjadi korban sia-sia meninggalkan dunia ini akibat meminum arak yang dicampur methanol, sungguh sebuah pengorbanan yang sia-sia dan tanpa makna hal yang sperti ini juga telah kehilangan cinta kasih terutama cinta kasih terhadap dirinya sendiri.

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Agama Hindu sesungguhnya sudah sangat jelas mengajarkan agar umatnya selalu dapat menumbuhkan rasa cinta kasih dengan didasarkan pada berpikir, berucap dan bertindak yang baik dan benar. Agama Hindu tidak pernah mengajarkan kebencian dan kemunafikan, namun sebaliknya selalu mengajarkan prinsip-prinsip Sathya atau kebenara, Dharma atau kebajikan, Shantih atau kedamaian, Prema atau kasih sayang, dan Ahimsa atau tanpa kekerasan. Ini hendaknya dapat kita jadikan napas dalam kehidupan setiap umat manusia khususnya umat Hindu. Cendikiawan Hindu, Suami Vivekananda mengatakan “ Cinta kasih adalah daya penggerak, karena cinta kasih selalu menempatkan dirinya sebagai pemberi yang tanpa keterikatan dan bukan penerima” Namun sekali lagi saya sampaikan dalam kesempatan ini, untuk kita renungakan bersama, kondisi kehidupan sekarang sungguh menjadikan kita prihatin. Banyak diantara saudara-saudara kita menjalani hidup dalam keresahan, kegelihahan dan kecemasan serta sangat jauh dari rasa santih. Tentu kita masih ingat pada tanggal 12 Oktober tahun 2002 yang lalu dimana Bali seolah tersentak oleh ledakan bom yang menewaskan sekian ratus orang yang tanpa dosa. Ini satu bukti bahwa manusia telah kehilangan rasa cinta kasihnya, cinta manusia telah terkikis dan digantikan oleh dendam dan kebencian yang siap berkobar dan membakar siapa saja, karenanya marilah kita sirami kembali dengan sisa-sisa cinta kasih kita yang masih ada sehingga kebencian, kemarahan dan dendam yang ada tidak menjalar lebih luas lagi

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Dalam Atharva Veda, Mandala VII, sukta 45 ada disebutkan

Kebencian itu ibarat api yang dapat membakar dirinya sendiri seperti kebakaran hutan belantara karenanya padamkanlah api kebencian itu dengan air cinta kasih kita.

Selain itu dalam ajaran Agama Hidnu juga kita mengenal satu ajaran yang menurut saya sangat sempurna sekali yaitu Ahimsa yang mampu menumbuhkan rasa cinta kasih terhadap semua makhluk dan mampu menjiwai nilai-nilai kemanusiaan. Cinta kasih yang sejati akan melenyapkan kekerasan dan melahirkan kedamaian. Ajaran Ahimsa selalu mengajarkan umat manusia untuk selalu mulat sasrira atau introspeksi diri seperti apa yang disampaikan oleh pencetus perjuangan tanpa kekerasa atau no violence yaitu Mahatma Gandhi. Beliau mengatakan seperti ini : arahkan sinarmu ke dalam batinmu, barangkali sebagian dari kesalahan itu akibat dari kamu sendiri. Bertindaklah adil, bermusyawarahlah, berundinglah, sebab kalau tidak, satu peperangan akan melahirkan segala racun, ketakutan dan tindak kekerasan akan memperbesar alasan untuk melahirkan pertikaian berikutnya. Nah dari apa yang disampaikan oleh Mahatma Gandhi yang saya sebutkan tadi nampak jelas bahwa tindakan tanpa kekerasan merupakan sebuah jalan untuk menuju perdamaian.

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Kekerasan yang timbul tidak hanya lewat perbuatan juga timbul lewat pikiran maupun perkataan manusia, karenanya ajaran ahimsa ini hedaknya selalu diamalkan dalam kehidupan baik dalam bertindak, berpikir dan berbicara. Sehingga setiap tindakan akan bernapaskan cinta kasih yang melahirkan kebajikan dan cinta kasih akan selalu melahirkan kedamaian, karenanya menurut Bagawadgita cintailah semuanya, janganlah bersipat bermusuhan atau menunjukan kebencian kepada siapapun juga.

Umat se dharma yang berbahagia

Seperti apa yang sudah saya sebutkan di atas bahwa cinta kasih akan menjiwai segala yang ada dalam kehidupan ini The power of love demikian orang sering menyebutnya. Apapun yang kita lakukan tanpa didasari oleh nilai cinta kasih semuanya tidak ada artinya seperti apa yang disebutkan oleh kitab suci Sarasmuccaya sloka 96 disebutkan sebagai berikut : meskipun orang itu selalu jaya terhadap musuh-musuhnya serta tak terbilang jumlah musuh yang telah dibunuhnya segala yang dibencinya musnah, namun jika ia selalu tidak mau memberi cinta dan selalu menuruti kemarahan dan kebenciannnya maka selamanya musuhnya itu tidak akan habis-habisnya.

Umat se-Dharma yang berbahagia

Sebelum saya sudahi penyampaian Dharma Wacana ini ada baiknya saya simpulkan kembali materi Dharma wacana yang sudah saya sampaikan tadi.

1. Makna cinta kasih itu sangatlah luas tidak hanya berarti perasaan suka antara sepasang kekasih, juga berarti welas asih antara saudara, teman dan antar sesama makhluk ciptaan Tuhan

2. Mengalirkan cinta kasih dalam kehidupan kita akan mampu melenyapkan kekerasan dan melahirkan perdamaian

3. Dengan cinta kasih kita akan menyadari bahwa sesungguhnya kita bersaudara seperti apa yang diisyaratkan dalam Weda “Vasudaiva kutumbhakam” artinya sesungguhnya semua manusia adalah bersaudara, “Vishva virat suarupa artinya semua makhluk hidup adalah ciptaan Tuhan

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Demikian Dharma Wacana yang bisa saya sampaikan mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua. Saya menyadari bahwa apa yang saya sampaikan ini masih banyak sekali kekurangannya untuk itu saya mohon maaf tidak ada manusia yang sempurna “tan hana wang sasuasta nulus”. Sebelum saya tutup saya ingin mengajak umat se-Dharma untuk mulat sasrira atau introspeksi diri tentang cinta kasih kita.

Barangkali saja cinta kasih kita telah kering mari kita sirami

Barangkali saja cinta kasih yang kita miliki telah lari mari kita kejar

Dan barangkali saja cinta kasih yang kita miliki telah hilang, mari kita temukan kembali

Selanjutnya marilah kita berangkulan saling memberi cinta.

Umat se-Dharma

Saya sudahi dengan Puja Parama Santih

Written by gedeseen

Juni 6, 2010 at 10:17 am

Ditulis dalam Uncategorized

Ini Naskah Dharma Wacana Yang Oke

with 2 comments

OM SWASTYASTU

Terima kasih saya sampaikan kepada pembawa acara atas waktu yang diberikan kepada saya dalam kesempatan menyampaikan dharma wacana

umat se-Dharma yang berbahagia pada hari ini

Pertama-tama saya memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Ida Hyang Widhi Wasa atas segala limpahan anugrah dari beliau sehingga kita bias berkumpul di tempat ini dalam suasana yang sangat damai untuk bersama-sama mengikuti lomba Dharma wacana yang diselenggarakan dalam kegiatan Utsawa Dharma Gita hari ini. Semoga kegiatan seperti ini semakin sering dilakasanakan sehingga nilai-nilai ajaran agama Hindu yang bersumber dari Weda semakin kita pahami untuk kita amalkan demi kesejahtraan dunia ini

Umat se-Dharma yang berbahagia, utamanya para peserta lomba Dharma Wacana. Adapun judul yang akan saya gunakan dalam menyampaikan Dharma Wacana pada lomba ini adalah : SAMIAGJNANA MAKA WEKASING DIRANING BUANA

Umat se-Dharma yang berbahagia

Sebelum saya lebih jauh menyampaikan isi Dharma Wacana ini akan saya sampaikan terlebih dahulu arti dari judul Dharma Wacana yang saya sampaikan tadi.

Samiagjnana itu berarti kesucian hati, atau keheningan pikiran, Wekasing, berarti : Utama, Dhiraning berasal dari Dhr yang berarti ajeg, kukuh, kuat, berani, Buana berarti jagat atau alam semesta. Secara keseluruhan saya artikan Samiajnana maka Wekasing Diraning Buana berarti kesucian hati atau keheningan pikiran Umat Hindu dalam mengajegkan atau mengukuhkan serta menjaga alam semesta dalam keseimbangan yang harmoni.

Umat sedharma yang berbahagia

Hal ini menurut saya sangat penting disampaikan pada acara ini, karena permasalahan yang terjadi di dunia umumnya dan Bali khususnya yang menyangkut tentang lingkungan demikian banyak dan komplek sekali, yang perlu mendapatkan perhatian kita bersama. Sesungguhnya disharmoni tidak perlu terjadi seandanya kita konsisten melaksanakan konsep Tri Hita Karana yang berarti tiga hal yang dapat menyebabkan kebahagiaan di alam ini. Kelangsungan kehidupan di alam raya ini, tergantung dari kesungguhan kita bersama untuk mengukuhkan apa yang disebut dengan Tri Hita Karana tadi, dengan konsep dan tuntunan Tri Hita Karana keharmonisan dan keseimbangan jagat raya ini dapat kita jaga. Kita juga ketahui dengan Tri Hita Karana ini pula Adat dan Budaya khusunya di Bali semakin berkembang dan menjadikan Bali cukup dikenal di Manca Negara. Dari Konsep Tri Hita Karana ini rupanya tidak salah para pengawi jaman dulu menyebutkan dalam lontar Basa Sangupati Salukat seperti ini “Rakyan Sang kadi Mega ring sasih Kapat, Lengeng Asemu Raras tininghalan” artinya

Seperti mendung pada bulan Kartika sangat mempesona untuk dilihat.

Seperti itu keindahan dan vibrasi spritualnya sehingga orang meberikan julukan Pulau bali dengan berbagai nama seperti Bali Pulau sorga atau The paradise island, Bali Pulau Dewata atau The Gods island, Bali pulau paginya dunia atau the morning of the word dan Bali adalah pulau seribu pura atau the island with thousesand temple. Sebutan itu diberikan kepada pulau Bali karena Pulau Bali betul-betul memberikan santa rasa, semua merasa santi

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Apa yang saya sampaikan di atas tadi merupakan bayangan keindahan waktu dulu atau purwa kala waktu yang telah lewat yang sangat jauh berbeda dengan waktu sekarang. Akhir-akhir ini semua sudah tahu bahwa permasalahan berkaitan dengan lingkungan di dunia termasuk juga Bali sudah berada pada situasi yang menghawatirkan. Hubungan antar manusia yang didasari atas kasih sayang, Tat Twam Asi dan Ahimsa yang di Bali dikenal dengan slogan sagilik-saguluk salunglung sabayantaka semakin ternoda oleh sikap dan tindakan kekerasan oleh keangkuhan manusia. Di Bali sering kita dengar pertikaian antar Desa Pakraman atau antar banjar sampai menimbulkan korban Jiwa. Banyak dari kita seolah lupa dan tidak bisa berwiweka memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Beberapa waktu lalu hati saya miris dan prihatin mendengar berita bahwa saudara-saudara yang seusia dengan saya yang menjadi harapan bangsa harus jadi korban sia-sia meninggalkan dunia ini akibat meminum arak yang dicampur methanol, sungguh sebuah pengorbanan yang sia-sia dan tanpa makna. Selain itu pembangunan yang diharapkan sudah lepas dari konsep Tri mandala dan asta Kosala Kosali. Pantai tercemari, hutan dibabat sekehendak hati sehingga menimbulkan banjir dan tanah longsor. Hal inilah yang meyebabkan alam ini cuntaka.

Umat se-Dharma yang saya muliakan.

Itulah permasalahan serius yang sedang kita hadapi saat ini. Tidak dapat saya pikirkan bagaimana jadinya alam ini termasuk alam Bali kalau kita tidak segera bertindak mrayascita atau membersihkan alam ini dengan selalu mengukuhkan Tri Hita Karana dalam kehidupan kita sehari-hari. Konsep dan tuntunan Tri Hita karana ini hanya ada di Bali, karenanya sudah saatnya kita berada paling depan dalam penyelamatan lingkungan. Dalam berusaha memenuhi kebutuhan hidup janganlah selalu memenuhi hawa nafsu yang tidak pernah puas namun hendaknyalah mengedepankan keseimbangan dan selalu berpegang pada ajaran Dharma. Jika itu kita abaikan niscaya segalanya tidak ada gunanya. Seperti yang disebutkan oleh Kitab Suci Sarasamucaya Sloka 12, sebagai berikut :

“ Kãmãrthau lipsamãnastu, dharmmam évãditascarét

Na hi dharmã dapétyãrhah, kãmo vãpi kadãcana”

Artinya :

Kalau kita ingin mendapatkan harta dan kama hendaknyalah Dharma dilaksanakan terlebih dahulu, kalau kita menyimpang dari ajaran Dharma arta dan Kama yang kita peroleh tidak ada gunanya.

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Jaman sekarang sering orang menyebut era Globalisasi, dinama segalanya tanpa ada sekat dan batas semua begitu mudah kita ketahui. Pada era sekarang ini ada satu wacana yang membuat bulu kita merinding yaitu pemanasan global yang sudah semakin dekat dan mengancam hidup kita. Apabila kita tidak segera melakukan upaya upaya mengurangi pemanasan global ini malapetaka yang begitu besar segera akan menimpa kita, karena akan ada pulau yang tenggelam. Sungguh sebuah petaka yang maha dahsyat, saya tidak bayangkan bagaimana seandainya petaka itu benar-benar menimpa bumi kita tempat kita bernaung

Umat se-Dharma yang berbahagia

Walau demikian besar permasalahan yang kita hadapi saat ini, kita tidak boleh menyerah kalah. Masih banyak ada jalan dan upaya yang bisa kita lakukan sebagai sebuah yadnya. Mari kita semua pegang teguh Samiyagjana Maka Wekasing Dhiraning Buana, kukuhkan Tri Hita Karana segabai penuntun hidup untuk mrayascita atau memarisuda alam ini Beberapa cara dan upaya yang dapat kita lakukan antara lain :

1. Pada parahyangan atau tempat suci, supaya selalu diupayakan kelestarian, kesucian dan kesakralannya dengan selalu berpedoman pada Tri Mandala. Batas bangunan perumahan atau bangunan lainnya supaya berpedoman pada bisama Parisada Hindu Dharma Indonesia yaitu apenyengker, Apeneleng dan Apenimpug.

2. Pada pawongan, hendaknya dibangun tata kehidupan yang harmonis antara sesama manusia sebagai makhluk sosial yang berbudi dan beretika dengan selalu menggelorakan semangat rasa persahabatan, seperti apa yang disebutkan dalam sastra Agama Hindu “Aham Brahman Asmi” Sesungguhnya kita semua adalah ciptaan dari Brahman. “Wasudewa Kotumbakam” sesungguhnya kita semua adalah bersaudara. Nah kalau sudah seperti itu buat apa kita bertengkar dan bermusuhan, Apa kata dunia !!!!

  1. Pada Bagian palemahan atau lingkungan, mari kita tingkatkan rasa wirang terhadap lingkungan untuk menjaga dan memeliharanya sehingga betul-betul menjadi harmonis sebagai tempat untuk hidup yang memberikan kedamaian.

Kalau seperti itu upaya yang dapat kita lakukan secara berkesimabungan dan bersama-sama, astungkara, keharmonisan jagat raya ini pasti dapat terjaga dan pemanasan global yang menakutkan itu dapat kita hindari

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Sebelum saya sudahi Dharma wacana ini akan saya simpulkan lagi isi Dharma Wacana yang sudah saya sampaikan tadi

  1. Kedamaian dan keindahan alam, khusunya alam Bali pada waktu dulu atau purwa kala betul-betul sangat sempurna dan memukau, itu semua akibat seluruh masyarakat Bali teguh berpegang Samiagjnana maka wekasing dhiraning Buana yang ditunjukkan pada pelaksanaan Tri Hita Karana
  2. Keadaan yang terjadi sekarang sudah terbalik sekali, rasa persaudaraan sudah semakin menipis dan terkikis, pepohonan dan hutan dibabat sekehendak hati demi ambisi pribadi yang menyebabkan banjir dan longsor, akibatnya menimbulkan cuntaka khususnya pada alam ini
  3. Mengharmoniskan alam lingkungan dapat dilaksanakan dengan berpegang pada konsep Tri Hita karana dalam tindakan sehari-hari.

Umat se-Dharma yang berbahagia

Demikian Dharma wacana yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang indah dan berbahagia ini, dan sudah pasti banyak hal yang kurang berkenan di hati pendengar sekalian, untuk itu saya mohon maaf yang setulus-tulusnya. Harapan saya apa yang telah saya sampaikan tadi bisa membuka wawasan kita untuk menjaga kelestarian alam ini

Umat se Dharma yang berbahagia :

Seperti dalam pantun

Ke Kaliurang, pantai lebih beli ikan kakap

Bergaya dengan mobil Apipi

Kurang lebih saya mohon maaf

Saya akhiri dengan parama Santih

Om Santih, Santih, Santih Om

Written by gedeseen

Juni 6, 2010 at 10:15 am

Ditulis dalam Uncategorized

Dharma Wacana

with one comment

Naskah belum jadi/masih nunggak

Written by gedeseen

Juni 6, 2010 at 2:42 am

Ditulis dalam Uncategorized