Tumbuh Mandiri

Just another WordPress.com site

Ini Naskah Dharma Wacana Yang Oke

with 2 comments

OM SWASTYASTU

Terima kasih saya sampaikan kepada pembawa acara atas waktu yang diberikan kepada saya dalam kesempatan menyampaikan dharma wacana

umat se-Dharma yang berbahagia pada hari ini

Pertama-tama saya memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Ida Hyang Widhi Wasa atas segala limpahan anugrah dari beliau sehingga kita bias berkumpul di tempat ini dalam suasana yang sangat damai untuk bersama-sama mengikuti lomba Dharma wacana yang diselenggarakan dalam kegiatan Utsawa Dharma Gita hari ini. Semoga kegiatan seperti ini semakin sering dilakasanakan sehingga nilai-nilai ajaran agama Hindu yang bersumber dari Weda semakin kita pahami untuk kita amalkan demi kesejahtraan dunia ini

Umat se-Dharma yang berbahagia, utamanya para peserta lomba Dharma Wacana. Adapun judul yang akan saya gunakan dalam menyampaikan Dharma Wacana pada lomba ini adalah : SAMIAGJNANA MAKA WEKASING DIRANING BUANA

Umat se-Dharma yang berbahagia

Sebelum saya lebih jauh menyampaikan isi Dharma Wacana ini akan saya sampaikan terlebih dahulu arti dari judul Dharma Wacana yang saya sampaikan tadi.

Samiagjnana itu berarti kesucian hati, atau keheningan pikiran, Wekasing, berarti : Utama, Dhiraning berasal dari Dhr yang berarti ajeg, kukuh, kuat, berani, Buana berarti jagat atau alam semesta. Secara keseluruhan saya artikan Samiajnana maka Wekasing Diraning Buana berarti kesucian hati atau keheningan pikiran Umat Hindu dalam mengajegkan atau mengukuhkan serta menjaga alam semesta dalam keseimbangan yang harmoni.

Umat sedharma yang berbahagia

Hal ini menurut saya sangat penting disampaikan pada acara ini, karena permasalahan yang terjadi di dunia umumnya dan Bali khususnya yang menyangkut tentang lingkungan demikian banyak dan komplek sekali, yang perlu mendapatkan perhatian kita bersama. Sesungguhnya disharmoni tidak perlu terjadi seandanya kita konsisten melaksanakan konsep Tri Hita Karana yang berarti tiga hal yang dapat menyebabkan kebahagiaan di alam ini. Kelangsungan kehidupan di alam raya ini, tergantung dari kesungguhan kita bersama untuk mengukuhkan apa yang disebut dengan Tri Hita Karana tadi, dengan konsep dan tuntunan Tri Hita Karana keharmonisan dan keseimbangan jagat raya ini dapat kita jaga. Kita juga ketahui dengan Tri Hita Karana ini pula Adat dan Budaya khusunya di Bali semakin berkembang dan menjadikan Bali cukup dikenal di Manca Negara. Dari Konsep Tri Hita Karana ini rupanya tidak salah para pengawi jaman dulu menyebutkan dalam lontar Basa Sangupati Salukat seperti ini “Rakyan Sang kadi Mega ring sasih Kapat, Lengeng Asemu Raras tininghalan” artinya

Seperti mendung pada bulan Kartika sangat mempesona untuk dilihat.

Seperti itu keindahan dan vibrasi spritualnya sehingga orang meberikan julukan Pulau bali dengan berbagai nama seperti Bali Pulau sorga atau The paradise island, Bali Pulau Dewata atau The Gods island, Bali pulau paginya dunia atau the morning of the word dan Bali adalah pulau seribu pura atau the island with thousesand temple. Sebutan itu diberikan kepada pulau Bali karena Pulau Bali betul-betul memberikan santa rasa, semua merasa santi

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Apa yang saya sampaikan di atas tadi merupakan bayangan keindahan waktu dulu atau purwa kala waktu yang telah lewat yang sangat jauh berbeda dengan waktu sekarang. Akhir-akhir ini semua sudah tahu bahwa permasalahan berkaitan dengan lingkungan di dunia termasuk juga Bali sudah berada pada situasi yang menghawatirkan. Hubungan antar manusia yang didasari atas kasih sayang, Tat Twam Asi dan Ahimsa yang di Bali dikenal dengan slogan sagilik-saguluk salunglung sabayantaka semakin ternoda oleh sikap dan tindakan kekerasan oleh keangkuhan manusia. Di Bali sering kita dengar pertikaian antar Desa Pakraman atau antar banjar sampai menimbulkan korban Jiwa. Banyak dari kita seolah lupa dan tidak bisa berwiweka memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Beberapa waktu lalu hati saya miris dan prihatin mendengar berita bahwa saudara-saudara yang seusia dengan saya yang menjadi harapan bangsa harus jadi korban sia-sia meninggalkan dunia ini akibat meminum arak yang dicampur methanol, sungguh sebuah pengorbanan yang sia-sia dan tanpa makna. Selain itu pembangunan yang diharapkan sudah lepas dari konsep Tri mandala dan asta Kosala Kosali. Pantai tercemari, hutan dibabat sekehendak hati sehingga menimbulkan banjir dan tanah longsor. Hal inilah yang meyebabkan alam ini cuntaka.

Umat se-Dharma yang saya muliakan.

Itulah permasalahan serius yang sedang kita hadapi saat ini. Tidak dapat saya pikirkan bagaimana jadinya alam ini termasuk alam Bali kalau kita tidak segera bertindak mrayascita atau membersihkan alam ini dengan selalu mengukuhkan Tri Hita Karana dalam kehidupan kita sehari-hari. Konsep dan tuntunan Tri Hita karana ini hanya ada di Bali, karenanya sudah saatnya kita berada paling depan dalam penyelamatan lingkungan. Dalam berusaha memenuhi kebutuhan hidup janganlah selalu memenuhi hawa nafsu yang tidak pernah puas namun hendaknyalah mengedepankan keseimbangan dan selalu berpegang pada ajaran Dharma. Jika itu kita abaikan niscaya segalanya tidak ada gunanya. Seperti yang disebutkan oleh Kitab Suci Sarasamucaya Sloka 12, sebagai berikut :

“ Kãmãrthau lipsamãnastu, dharmmam évãditascarét

Na hi dharmã dapétyãrhah, kãmo vãpi kadãcana”

Artinya :

Kalau kita ingin mendapatkan harta dan kama hendaknyalah Dharma dilaksanakan terlebih dahulu, kalau kita menyimpang dari ajaran Dharma arta dan Kama yang kita peroleh tidak ada gunanya.

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Jaman sekarang sering orang menyebut era Globalisasi, dinama segalanya tanpa ada sekat dan batas semua begitu mudah kita ketahui. Pada era sekarang ini ada satu wacana yang membuat bulu kita merinding yaitu pemanasan global yang sudah semakin dekat dan mengancam hidup kita. Apabila kita tidak segera melakukan upaya upaya mengurangi pemanasan global ini malapetaka yang begitu besar segera akan menimpa kita, karena akan ada pulau yang tenggelam. Sungguh sebuah petaka yang maha dahsyat, saya tidak bayangkan bagaimana seandainya petaka itu benar-benar menimpa bumi kita tempat kita bernaung

Umat se-Dharma yang berbahagia

Walau demikian besar permasalahan yang kita hadapi saat ini, kita tidak boleh menyerah kalah. Masih banyak ada jalan dan upaya yang bisa kita lakukan sebagai sebuah yadnya. Mari kita semua pegang teguh Samiyagjana Maka Wekasing Dhiraning Buana, kukuhkan Tri Hita Karana segabai penuntun hidup untuk mrayascita atau memarisuda alam ini Beberapa cara dan upaya yang dapat kita lakukan antara lain :

1. Pada parahyangan atau tempat suci, supaya selalu diupayakan kelestarian, kesucian dan kesakralannya dengan selalu berpedoman pada Tri Mandala. Batas bangunan perumahan atau bangunan lainnya supaya berpedoman pada bisama Parisada Hindu Dharma Indonesia yaitu apenyengker, Apeneleng dan Apenimpug.

2. Pada pawongan, hendaknya dibangun tata kehidupan yang harmonis antara sesama manusia sebagai makhluk sosial yang berbudi dan beretika dengan selalu menggelorakan semangat rasa persahabatan, seperti apa yang disebutkan dalam sastra Agama Hindu “Aham Brahman Asmi” Sesungguhnya kita semua adalah ciptaan dari Brahman. “Wasudewa Kotumbakam” sesungguhnya kita semua adalah bersaudara. Nah kalau sudah seperti itu buat apa kita bertengkar dan bermusuhan, Apa kata dunia !!!!

  1. Pada Bagian palemahan atau lingkungan, mari kita tingkatkan rasa wirang terhadap lingkungan untuk menjaga dan memeliharanya sehingga betul-betul menjadi harmonis sebagai tempat untuk hidup yang memberikan kedamaian.

Kalau seperti itu upaya yang dapat kita lakukan secara berkesimabungan dan bersama-sama, astungkara, keharmonisan jagat raya ini pasti dapat terjaga dan pemanasan global yang menakutkan itu dapat kita hindari

Umat se-Dharma yang saya muliakan

Sebelum saya sudahi Dharma wacana ini akan saya simpulkan lagi isi Dharma Wacana yang sudah saya sampaikan tadi

  1. Kedamaian dan keindahan alam, khusunya alam Bali pada waktu dulu atau purwa kala betul-betul sangat sempurna dan memukau, itu semua akibat seluruh masyarakat Bali teguh berpegang Samiagjnana maka wekasing dhiraning Buana yang ditunjukkan pada pelaksanaan Tri Hita Karana
  2. Keadaan yang terjadi sekarang sudah terbalik sekali, rasa persaudaraan sudah semakin menipis dan terkikis, pepohonan dan hutan dibabat sekehendak hati demi ambisi pribadi yang menyebabkan banjir dan longsor, akibatnya menimbulkan cuntaka khususnya pada alam ini
  3. Mengharmoniskan alam lingkungan dapat dilaksanakan dengan berpegang pada konsep Tri Hita karana dalam tindakan sehari-hari.

Umat se-Dharma yang berbahagia

Demikian Dharma wacana yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang indah dan berbahagia ini, dan sudah pasti banyak hal yang kurang berkenan di hati pendengar sekalian, untuk itu saya mohon maaf yang setulus-tulusnya. Harapan saya apa yang telah saya sampaikan tadi bisa membuka wawasan kita untuk menjaga kelestarian alam ini

Umat se Dharma yang berbahagia :

Seperti dalam pantun

Ke Kaliurang, pantai lebih beli ikan kakap

Bergaya dengan mobil Apipi

Kurang lebih saya mohon maaf

Saya akhiri dengan parama Santih

Om Santih, Santih, Santih Om

Written by gedeseen

Juni 6, 2010 at 10:15 am

Ditulis dalam Uncategorized

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. naskah beli bagus semakin seringlah isi halaman ini dengan nilai-nilai rohani yang bertumpukan pada dharma untuk semakin merekatkan jiwa kita pada sang pencipta dalam pelukan damai yang penuh keabadian.

    Dakha

    Juni 6, 2010 at 11:08 am

    • Thank you very much your comment for me . O k saatnya berlanttun dalam bait tembang yang menimbun suasana hati penuh ritme dan melodi rohani. Thank ya

      gedeseen

      Juni 6, 2010 at 11:13 am


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: